Kamis, 07 Agustus 2014

Wisata pantai ngobaran yogyakarta

wisata pantai ngobaran yogyakarta
wisata pantai ngobaran yogyakarta


PANTAI NGOBARAN
dari Pura sampai Landak Laut Goreng
Desa Kanigoro, Saptosari, Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia

Pantai Ngobaran nyatanya kaya pesona budaya ; dari mulai pura, masjid yang menghadap ke selatan, sampai potensi kuliner terpendam yakni landak laut goreng.

Datang ke Pantai Ngrenehan serta nikmati ikan bakarnya belum komplit bila tidak singgah di pantai sampingnya, Ngobaran. Letak pantai yang bertebing tinggi ini cuma lebih kurang dua km. dari Pantai Ngrenehan. Tidak jauh bukan? Masyarakat Pantai Ngrenehan saja kerap mengulas serta singgah ke Pantai Ngobaran, kenapa kamu tak?
Ngobaran adalah pantai yang cukup eksotik. Bila air surut, kamu dapat lihat hamparan alga (rumput laut) baik yang berwarna hijau ataupun coklat. Bila dipandang dari atas, hamparan alga yang tumbuh di sela-sela karang terlihat seperti sawah di lokasi padat masyarakat. Beberapa puluh type binatang laut juga ada di sela-sela karang, dari mulai landak laut, bintang laut, sampai kelompok kerang-kerangan.

wisata pantai ngobaran yogyakarta
wisata pantai ngobaran yogyakarta


Namun yang tidak ada di pantai lain yaitu pesona budayanya, dari mulai bangunan sampai makanan masyarakat setempat. Satu salah satunya yang menarik yaitu ada tempat beribadah untuk empat agama atau mungkin keyakinan berdiri berdekatan. Apakah itu bentuk multikulturalisme? Siapa tahu.

Bangunan yang paling terang tampak yaitu tempat beribadah sejenis pura dengan patung-patung dewa berwarna putih. Tempat peribadatan itu didirikan th. 2003 untuk memperingati hadirnya Brawijaya V, satu diantara keturunan raja Majapahit, di Ngobaran. Orang yang melaksanakan ibadah ditempat ini yaitu penganut keyakinan Kejawan (bukan hanya Kejawen lho). Nama " Kejawan " menurut narasi datang dari nama satu diantara putra Brawijaya V, yakni Bondhan Kejawan. Pembangun tempat peribadatan ini mengakui untuk keturunan Brawijaya V serta menunjuk satu diantara warga untuk melindungi tempat ini.

Jalan ke arah kiri dari tempat peribadatan itu, Kamu bakal menjumpai suatu Joglo yang dipakai untuk tempat peribadatan pengikut Kejawen. Waktu YogYES bertandang ke tempat ini, sebagian pengikut Kejawen tengah lakukan sembahyangan. Menurut masyarakat setempat, keyakinan Kejawen tidak sama dengan Kejawan. Tetapi mereka sendiri tidak demikian dapat menuturkan ketidaksamaannya.

Apabila selalu menyusuri jalan setapak yang ada di depan Joglo, kamu bakal temukan suatu kotak batu yang ditumbuhi tanaman kering. Tanaman itu dipagari dengan kayu berwarna abu-abu. Titik di mana ranting kering ini tumbuh konon adalah tempat Brawijaya V berpura-pura membakar diri. Langkah itu ditempuhnya lantaran Brawijaya V tidak ingin berperang melawan anaknya sendiri, Raden Patah (Raja I Demak).

Kebenaran narasi perihal Brawijaya V ini saat ini banyak diragukan oleh banyak sejarahwan. Penyebab, bila memanglah Raden Patah menyerang Brawijaya V maka bakal berikan kesan seakan-akan Islam disebarkan lewat cara kekerasan. Banyak sejarahwan berasumsi bahwasanya bukti histori yang ada tidak cukup kuat untuk menyebutkan bahwasanya Raden Patah lakukan penyerangan. Sedetailnya bagaimana, barangkali Kamu dapat mencari sendiri.

Sebagian mtr. dari kotak tempat ranting kering tumbuh ada pura untuk tempat peribadatan umat Hindu. Tidak terang kapan berdirinya pura itu.

Dibagian depan tempat ranting tumbuh ada suatu masjid memiliki ukuran lebih kurang 3x4 mtr.. Bangunan masjid cukup simpel lantaran lantainya juga berbentuk pasir. Seakan menyatu dengan pantainya. Uniknya, bila umumnya masjid di Indonesia menghadap ke Barat, masjid ini menghadap ke selatan. Sisi depan tempat imam memimpin sholat terbuka hingga segera bisa lihat lautan. Saat kami bertanya pada masyarakat setempat, tidak banyak yang tahu perihal argumennya. Bahkan juga, masyarakat setempat sendiri heran lantaran yang bangun juga satu diantara Kyai populer pengikut Nahdatul Ulama yang tinggal di Panggang, Gunung Kidul. Untuk panduan untuk yang bakal sholat, masyarakat setempat berikan sinyal di tembok dengan pensil merah perihal arah kiblat yang sesungguhnya.

Sesudah senang terheran-heran dengan website peribadatannya, Kamu dapat jalan turun ke pantai. Bila datang pagi, maka pengunjung bakal menjumpai orang-orang pantai tengah memanen rumput laut untuk di jual pada tengkulak. Akhirnya lumayan untuk memenuhi keperluan hidup mereka.

Tetapi, bila datang sore, umumnya Kamu bakal menjumpai warga tengah mencari landak laut untuk jadikan makanan malam harinya. Untuk dapat dimakan, landak laut dikepras dahulu durinya sampai rata serta lalu dipecah memakai sabit. Daging yang ada dibagian dalam landak laut kemudioan dicongkel. Umumnya warga mencari landak cuma berbekal ember, saringan kelapa, sabit, serta topi kepala untuk hindari panas.

Landak laut yang didapat umumnya di beri bumbu berbentuk garam serta cabe lalu digoreng. Menurut masyarakat, daging landak laut cukup kenyal serta lezat. Akantetapi, tidak banyak masyarakat yang jual makanan yang eksotik itu. Namun bila ingin pesan, cobalah saja meminta pada satu diantara masyarakat untuk memasakkan. Siapa tahu, kamu dapat juga sharing inspirasi perihal bagaimana memasak landak laut hingga warga pantai Ngobaran dapat menggunakan pengetahuan itu untuk melakukan bisnis menambah skala kehidupannya.

Komplit bukan? Dari keindahan pantai, pesona tempat peribadatan sampai hidangan yang menggoda. Barangkali tidak ada ditempat lain.
Sumber www.yogyes.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar